SEPUTARAN.ID, BANJARMASIN – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Banjarmasin ternyata sempat menghadapi sejumlah kendala.
Salah satunya adalah temuan adanya pengurangan kuantitas menu makanan yang diberikan kepada siswa penerima manfaat.
Temuan tersebut diungkapkan Komandan Kodim (Dandim) 1007/Banjarmasin, Letkol Czi Slamet Riyadi.
Meski TNI tidak terlibat langsung dalam pengelolaan Program MBG, pihaknya tetap melakukan pengawasan untuk memastikan program berjalan sesuai tujuan.
“MBG bukan tugas TNI, kami hanya melakukan monitoring dan pengawasan. Tetapi karena ini menyangkut kebutuhan gizi anak-anak, kami merasa memiliki tanggung jawab moral untuk ikut mengawasi,” tegas Slamet, Kamis (4/6/2026).
Beberapa waktu lalu pihaknya menemukan adanya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang belum menjalankan standar pelayanan secara maksimal.
Bentuk pelanggaran yang ditemukan berupa pengurangan porsi makanan, baik lauk maupun sayuran yang diterima siswa.
Lalu ada menu yang kuantitasnya dikurangi, lauknya tidak sesuai standar dan juga sayuran yang porsinya terlalu sedikit.
“Saat ditemukan, langsung kami sampaikan dan minta segera diperbaiki,” bebernya.
Setiap temuan langsung ditindaklanjuti melalui evaluasi, agar tidak kembali terulang. Pengawasan semakin diperketat setelah sempat muncul kasus gangguan kesehatan yang dialami sejumlah siswa penerima MBG beberapa waktu lalu.
Sejak itu, Kodim 1007/Banjarmasin rutin menggelar evaluasi bulanan bersama para Kepala SPPG.
Selain itu, Babinsa juga diterjunkan untuk melakukan pemantauan harian mulai dari proses pengolahan makanan di dapur hingga distribusi ke sekolah-sekolah.
“Kami tidak mengawasi urusan anggaran atau keuangan, fokusnya pada kualitas makanan, higienitas, pengemasan dan distribusinya,” tuturnya.
Ia juga menyoroti, masih adanya sebagian mitra yang dinilai terlalu jauh ikut campur dalam penentuan menu maupun jumlah makanan yang disajikan.
Padahal, standar gizi seharusnya mengacu pada rekomendasi ahli gizi dan ketentuan yang telah ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).
Meski sempat ditemukan sejumlah kekurangan, ia memastikan kondisi pelaksanaan MBG di Banjarmasin saat ini jauh lebih baik dibandingkan pada masa awal program berjalan. Keluhan dari sekolah maupun siswa juga disebut sudah sangat minim.
“Alhamdulillah sampai sekarang pelaksanaan MBG di Banjarmasin masih terkendali. Kalau ada temuan, langsung dievaluasi dan diperbaiki,” ungkapnya.
Menurutnya, pengawasan yang konsisten menjadi kunci agar tujuan program MBG benar-benar tercapai.
Program tersebut tidak hanya bertujuan menyediakan makanan gratis bagi siswa, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.
“Harapannya tata kelola program terus diperkuat sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan anak-anak sebagai penerus bangsa,” tukasnya. (shn/smr)








