SEPUTARAN.ID, BANJARMASIN – Berdasarkan data lima tahun terakhir produksi perikanan budidaya dan ikan tangkap mengalami peningkatan.
Sesuai data, budidaya ikan dari 2021 sekitar 2.332 ton menjadi 2.804,12 ton pada 2025. Baik itu bawal air tawar, gabus, gurame, lele, lobster, nila, patin dan toman.
Sedangkan tangkap ikan dari 2021 sekitar 1.031,798 ton menjadi 2.351,054 ton pada 2025. Baik itu betok, gabus, nila, patin, bawal, baung, sepat siam, paray, lais, lele, udang galah, udang tawar, kakap putih, teri nasi dan udang vename.
Kepala Bidang Perikanan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Banjarmasin Sulaiman menuturkan, ada peningkatan tiap tahunnya baik perikanan budidaya dan tangkap.
“Di 2024 itu tangkap ikan sekitar 2,328,411 menjadi 2,351, 054 per ton. Sedangkan di 2024 budidaya ikan 2,758,385 menjadi 2,804,12 per tonpada 2025,” ungkapnya.
Menurutnya, setiap tahun kelompok baru tumbuh untuk usaha perikanan. Baik budidaya, tangkap, pengolahan produk ikan dan pemasaran hasil ikan.
Meski ada peningkatan setiap tahunnya, namun tren penurunan juga ada, soalnya tergantung keuntungan dan potensinya. “Misalnya ikan jenis gabus dibudidaya kurang menarik, karena waktu untuk panen dan modal harus kuat buat pakannya,” bebernya.
Alasannya, perbandingannya sekitar 1,5 tahun baru bisa panen, sedangkan lele selama 2,5 bulan telah panen. Sementara secara pangsa pasarnya sama-sama menarik dan pembelinya ada, cuma perbandingan dari cepat dan lambat beda.
Memang ikan haruan masih menjadi primadona dan dibutuhkan untuk produk kuliner di Kalimantan Selatan (Kalsel).
“Cuma ada penurunan dari tangkap ikan, gabus pada 2024 362,538 ton menjadi 362,358 ton di 2025. Sedangkan dari budidaya ikan, gabus pada 2024 233,748 ton menjadi 73,2 ton di 2025,” jelasnya.
Upaya dilakukan pihaknya kerja sama dan koordinasi dengan penyuluh. Sebab, ada keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang perikanan ini, guna pemberdayaan dan pendampingan untuk pelaku usaha.
Ia mengimbau, musim sekarang agar lebih berhati-hati dan waspada, karena memang di beberapa lokasi ditemukan ikan mati. Seperti di kawasan Alalak kebanyakan budidaya patin, lele dan gabus. “Akibat panas, hujan dan fluktuasi suhu. Membuat kualitas air jadi menurun,” tuturnya.
Ia menyampaikan, pihaknya juga update situasi cuaca dari BMKG dan penyuluh mewanti-wanti kapan harus tebar dan panen. “Bila dipertengahan jalan usaha, bila ada prediksi perubahan cuaca dan fluktuasi suhu bisa saja di panen sebelum waktunya,” ingatnya.
Untuk mengantisipasi ikan mati yang banyak. Pelaku pembudidaya juga cukup paham dan berpengalaman kapan waktunya tebar dan panen. “Meski begitu cuaca bisa tidak terprediksi,” tukasnya. (shn/smr)








