SEPUTARAN.ID, BANJARMASIN – Kemunculan kasus hantavirus di Indonesia menjadi sorotan dan perhatian seluruh daerah. Bahkan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Banjarmasin memberikan perhatian serius.
“Walau belum ditemukan kasus di Kalimantan Selatan (Kalsel), masyarakat tetap diminta waspada terhadap penyebaran virus yang dibawa hewan seperti tikus tersebut,” ujar Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarmasin dr. Dwi Atmi Susilastuti.
Ia menuturkan, hantavirus merupakan penyakit yang perlu diwaspadai agar tidak menyebar luas. Namun, masyarakat juga diminta tidak panik berlebihan.
Walaupun sudah ditemukan di beberapa wilayah Indonesia sejak 2024 hingga 2026, hantavirus ini belum menjadi pandemi baru. “Penularannya juga masih bersifat sporadis atau jarang terjadi pada manusia,” kata Dwi, Senin (12/5/2026) siang.
Menurutnya, hingga kini belum ada laporan kasus positif hantavirus di Kota Banjarmasin maupun Kalsel. Namun kewaspadaan tetap diperketat, terlebih Kalimantan Barat (Kalbar) yang merupakan wilayah tetangga sudah menemukan kasus tersebut.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, tercatat ada 23 kasus hantavirus di sembilan Provinsi di Indonesia. “Diantaranya DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, Jawa Timur, Banten, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan Barat hingga Sulawesi Utara,” terangnya.
Hantavirus tergolong penyakit serius, karena dapat menyebabkan gangguan ginjal hingga infeksi paru-paru berat. Tingkat kematiannya bahkan disebut mencapai 5 sampai 15 persen pada jenis infeksi tertentu.
“Virus ini ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus. Penularan terjadi saat manusia menghirup udara yang telah terkontaminasi urin, kotoran, atau air liur tikus yang mengering,” jelasnya.
Ia melanjutkan, lingkungan kotor dan banyak tikus memang menjadi faktor risiko utama penyebaran hantavirus. Area seperti Gudang yang jarang dibersihkan, loteng, bangunan kosong hingga kawasan terdampak banjir disebut menjadi lokasi berisiko tinggi penyebaran virus tersebut.
Gejala awal mirip flu biasa. Mulai dari demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah hingga tubuh lemas. “Pada kondisi berat, penderita dapat mengalami gangguan ginjal, batuk dan sesak napas,” ujarnya.
Cara mengantisipasinya, Dinkes telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) kewaspadaan hantavirus kepada fasilitas kesehatan.
Puskesmas dan Rumah Sakit (RS) juga diminta siaga mendeteksi pasien suspek. Selain itu, masyarakat diimbau rutin menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membersihkan kotoran tikus dalam kondisi kering. “Basahi dulu dengan disinfektan, agar debunya tidak beterbangan dan terhirup,” jelasnya.
Warga juga diminta menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berpotensi menjadi sarang tikus. “Paling penting tetap tenang, jangan panik dan fokus pada pola Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS),” tukasnya. (shn/smr)









