SEPUTARAN.ID, BANJARMASIN – Limbah hewan kurban Hari Raya Idul Adha 1447 /2026 menjadi perhatian pemerintah kota (Pemko Banjarmasin dan diminta tidak dibuang sembarangan.
Masyarakat, panitia dan shohibul kurban diharapkan memperhatikan pengelolaan limbah bekas hewan kurban.
Ketua UPTD Rumah Potong Hewan (RPH) Basirih Banjarmasin drh Annang Dwijatmiko mengajak warga untuk memperhatikan pengolahan limbah darah dan kotoran dari hewan kurban.
“Untuk pengelolaan limbah, terutama darah bisa ditampung dengan ember ataupun dibuatkan sumur serapan. Kalau sudah selesai nanti ditaburi dengan kapur, setelah itu ditimbun, baru dikasihkan kapur lagi dan disemprot disinfektan di sekelilingnya,” ingat Annang, Selasa (26/5/2026).
Adapun kotoran hewan kurban masih bisa dimanfaatkan untuk dijadikan pupuk. Untuk kotorannya bisa dijadikan pupuk dengan cara pemberian EM4 Peternakan, nanti diolah sedemikian rupa, biasanya itu ditutup dengan plastik, lalu secara alami menjadi pupuk oleh bakteri dari EM4-nya.
Sementara darah cenderung menjadi tempat bakteri tumbuh. “Jadi semua bakteri bisa hidup di darah. Itu bisa menyebabkan infeksi ataupun penyakit-penyakit lain yang bisa menyerang manusia maupun hewan lain,” bebernya.
Diharapkan, setelah kurban tidak ada kejadian penyakit zoonosis, penyakit yang menular dari hewan ke manusia.
Jadi masyarakat, panitia kurban dan shohibul kurban diharapkan memperhatikan adab pelaksanaan kurban sesuai syariat sekaligus menjaga dengan baik pengelolaan darah dan kotoran hewan kurban.
“Makanya diharapkan kepada masyarakat, terutama panitia kurban, ketika selesai penyembelihan limbah darahnya diperhatikan benar-benar,” jelasnya.
Kalaupun ditampung, nanti dibuang secara benar biar tidak mencemari lingkungan ataupun kesehatan masyarakat di sekitar.
Kemudian untuk pelaksanaan bisa melakukan pemotongan hewan kurban secara syariat Islam yang benar dan kesejahteraan hewan perlu diperhatikan.
Ia menyampaikan, guna menjaga kualitas daging yang dibagikan kepada masyarakat. Hewan kurban jangan dibanting, terlalu diikat dan ditindih dengan balok kayu.
“Karena sudah diberikan pelatihan terkait bagaimana cara menghandle sapi dan merobohkannya serta teknik penyembelihan baik, benar dan sempurna,” ujarnya.
Disarankan untuk kesehatan daging tidak diperbolehkan menggunakan kantong plastik yang berwarna hitam atau daur ulang. Sebab, memberikan efek zat karsinogenik yang dapat masuk ke dalam tubuh.
“Jadi disarankan cara pengemasannya menggunakan purun, daun dan bok plastik ada pelapisnya yang untuk menyerap sisa-sisa plasma dan darah di serat daging. Tentunya dapat memberikan kualitas daging tetap sehat dan layak dikonsumsi.
Soalnya, ungkap dia, sisa-sisa plasma dan darah di serat daging akan mengendap dibawah akan menimbulkan kebusukan yang cepat memberikan kualitas daging jadi rusak. (shn/smr)









