SEPUTARAN.ID, BANJARMASIN – Kawasan Bandarmasih Tempo Doeloe yang pernah menjadi ikon wisata baru Banjarmasin kini mulai kehilangan daya tarik.
Deretan kedai kopi dan tempat makan yang sebelumnya tampak ramai pengunjung kini mulai sepi. Bahkan, beberapa di antaranya tutup dan memasang spanduk dijual serta disewakan.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Banjarmasin Ibnu Sabil tidak menampik kondisi kawasan Kota Lama tersebut. Sebab, persaingan usaha kuliner dan kafe saat ini semakin ketat.
“Banyak kafe baru yang muncul di berbagai titik kota. Itu tentu sangat mempengaruhi aktivitas usaha di kawasan itu,” ungkap Ibnu Sabil, Sabtu (14/3/2026).
Salah satu kawasan yang kini menjadi pusat keramaian baru adalah Jalan Hasanuddin HM yang penuh kafe dan tempat berkumpul anak muda. “Perpindahan pengunjung ke lokasi baru ini menjadi salah satu faktor meredupnya kawasan Bandarmasih Tempo Doeloe,” ujarnya.
Ia mendorong pelaku usaha di kawasan tersebut terus berinovasi agar tidak kehilangan pengunjung. Kalau konsepnya tidak berkembang, pengunjung akan mencari tempat lain. “Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin tidak ingin kawasan ini benar-benar kehilangan daya tarik,” imbuhnya.
Pemko mengupayakan revitalisasi melalui kolaborasi lintas instansi. Salah satu langkah konkretnya adalah pembangunan shelter air oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Banjarmasin. Langkah tersebut untuk mendukung akses transportasi sungai menuju kawasan Kota Lama atau Bandarmasih Tempoe Doeloe.
“Shelter air ini bagian dari upaya menarik kembali kunjungan melalui jalur sungai, sehingga wisatawan lebih mudah datang ke kawasan tersebut,” tuturnya.
Kawasan ini sebelumnya pernah ditata ulang pada masa kepemimpinan walikota sebelumnya, H Ibnu Sina. “Penataan melalui perbaikan trotoar dan drainase dengan anggaran APBD sekitar Rp7,8 miliar. Penataan itu sempat menghidupkan kembali aktivitas kawasan Bandarmasih Tempo Doeloe,” tukasnya. (shn/smr)








