SEPUTARAN.ID, BANJARMASIN – Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Banjarmasin Ryan Utama meninjau langsung untuk memantau kondisi sekolah yang terendam banjir rob pada Minggu (4/1/2026) malam.
Peninjauan ini dilakukan guna memastikan kondisi riil Sekolah sekaligus menentukan langkah penyesuaian Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).
“Setidaknya ada 1 Sekolah Dasar (SD) dan 5 Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang berlokasi di kawasan Banjarmasin Selatan dan Banjarmasin Timur yang terdampak banjir,” ungkap Ryan Utama, disela-sela kunjungan, Minggu (4/1/2026).
Adapun sekolah yang terdampak itu, yakni SDN Pemurus Dalam 4, SMP 30, SMP 22, SMP 16, SMP 23 dan SMP 18.
Dua wilayah kecamatan ini diketahui menjadi titik dengan dampak genangan air terparah. Kondisi genangan cukup tinggi, bervariasi di setiap titik.
Ada yang airnya hanya sampai di teras sekolah, namun ada juga yang sudah masuk hingga ke dalam ruang kelas. Selain itu, durasi air surut juga tergolong cukup lama.
Berdasarkan pendataan sementara dari laporan seluruh kepala sekolah di lima Kecamatan, tercatat ada 50 sekolah dari berbagai jenjang sekolah terdampak oleh fenomena air pasang ini.
“TK/PAUD 5 Sekolah, SD 26 Sekolah, dan SMP itu 19 sekolah. Jadi total ada 50 sekolah yang terdampak,” jelasnya Ryan.
Dia menegaskan, bagi sekolah yang kondisi lingkungannya tidak memungkinkan untuk tatap muka, serta bagi siswa yang akses Rumah nya terendam, maka pembelajaran dialihkan sepenuhnya ke Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
” Sekolah yang kami datangi tadi rata-rata memang akan melaksanakan full PJJ sesuai dengan Surat Edaran (SE) yang telah kami layangkan,” katanya.
Ia menyatakan, SE ini berlaku baik bagi sekolah yang terendam maupun siswa yang rumahnya terdampak sehingga sulit akses keluar.
Terkait status tenaga pendidik, adanya perbedaan kebijakan antara siswa dan guru. Sementara siswa diperbolehkan belajar dari rumah, para guru tetap diwajibkan masuk bekerja.
“Untuk guru, karena statusnya adalah pegawai, saat ini tetap masuk ke sekolah seperti biasa. Tapi kami masih menunggu koordinasi dan pemberitahuan lebih lanjut dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin terkait mekanisme kerja ASN di tengah situasi ini,” jelasnya.
Ia menyebut, kebijakan ini melihat kondisi dan tidak ada jangka waktu, bila dirasa sudah aman maka SE tak berlaku lagi.
Ryan mengimbau, pihak sekolah mengamankan fasilitas sekolah ke tempat lebih tinggi. “Peninjauan lapangan ini direncanakan akan kembali berlanjut pada dengan menyasar sejumlah SD lainnya yang juga melaporkan kondisi darurat banjir,” ujarnya.
Sementara itu Kepala SMPN 30 Banjarmasin Faisal Rahman memutuskan untuk mengalihkan proses belajar mengajar menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mulai Senin (5/1/2026)
Keputusan ini diambil setelah melakukan kajian mendalam terhadap kondisi sekolah dan akses jalan di sekitarnya.
“Genangan air di depan maupun di area dalam sekolah cukup tinggi, sehingga menyulitkan aktivitas fisik di lingkungan sekolah,” terangnya.
Faisal mengatakan, kebijakan ini berpedoman pada SE dari Disdik yang memberikan fleksibilitas kepada sekolah untuk menentukan metode pembelajaran sesuai situasi darurat.
” Kebetulan SMPN 30 ini agak lumayan terdampak. Pasang air cukup tinggi di depan maupun di luar sekolah. Selain itu, akses jalan di depan juga sangat berpengaruh terhadap keamanan siswa,” ujarnya.
Selain kondisi gedung sekolah, faktor sosial ekonomi siswa menjadi pertimbangan utama. Sekitar 70 persen dari total 592 siswa SMPN 30 tinggal di daerah yang terdampak banjir cukup parah.
Mengingat, mayoritas siswa berasal dari Sungai Lulut, Sungai Bakung, kawasan Pramuka, hingga Jalan Siaga.
Adapun PJJ akan dilaksanakan selama 3 hari ke depan, terhitung mulai besok. Pihak sekolah akan terus memantau situasi di Lapangan. Jika genangan surut lebih cepat, kebijakan akan disesuaikan kembali.
Terkait kehadiran tenaga pendidik, ia menegaskan, para guru tetap diminta hadir ke sekolah selama kondisi rumah pribadi memungkinkan.
“Selama tidak terdampak di rumahnya, kita sarankan guru tetap hadir sesuai aturan kepegawaian. Namun, apabila guru tersebut juga menjadi korban banjir, tentu akan ada penyesuaian izin dan dispensasi,” tukasnya. (shn/smr)









