SEPUTARAN.ID, BANJARMASIN – Benda diduga dudukan meriam yang tertanam di bawah Langgar Al Hinduan, di Jalan Piere Tendean, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Banjarmasin, akhirnya diangkat, Jumat (18/8/2023).
Pengangkatan benda besi itu pun dibantu alat berat eksavator dan dan relawan pemadam kebakaran disaksikan puluhan warga Sungai Mesa dan sekitarnya.
Proses pengangkatan dipantau langsung pihak Dinas Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Banjarmasin, Tim Ahli Cagar Budaya Kota Banjarmasin, Antropologi ULM dan tentunya tokoh masyarakat setempat.
Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disbudporapar Banjarmasin Zulfaisal Putera merasa bahagia bisa menemukan benda yang cukup lama ini.
“Kalau dugaan awal Meriam pada 1936, mungkin ada moncong yang mirip dengan Meriam waktu itu. Makanya, setelah digali melihat ada benda seperti ini, kita membawa Tim Ahli Cagar Budaya,” jelasnya.
Ia mengatakan, ada tiga kemungkinan benda yang ditemukan tersebut, pertama dudukan meriam, kedua sambungan pipa air dan ketiga bagian dari Kapal.
Setelah ini, pihaknya akan terus melakukan kajian dan tempat akan disterilkan.
“Apakah bisa dilanjutkan penggalian atau tidak, itu tergantung kajian Tim Ahli Cagar Budaya,” jelasnya.
Benda yang sudah diangkat akan diletakkan di dalam dulu untuk diamankan. Karena Tim Ahli Cagar Budaya sedang meneliti benda yang sama seperti ini, apa fungsi utamanya.
“Tentunya berharap misalnya ada lagi ditemukan akan dilakukan penggalian lagi,” pungkasnya.
Sementara itu, Tim Ahli Cagar Budaya Kota Banjarmasin Mursalin mengatakan, terkait benda itu dugaan lebih besar presentasenya sekitar 50 persen bagian besi kapal, 25 persen dudukan meriam dan 25 persen sambungan pipa air.
“Jadi sementara dugaan kita ketiga hal tersebut, tapi perlu dipastikan lebih lanjut seperti apa jelasnya nanti,” ujarnya.
Kalau sudah ada kepastian, sambungnya, rencananya mau dilanjutkan kepenggalian dulu dan kemudian mau direkomendasikan sebagai benda cagar budaya.
“Karena Langgar Al Hinduan sendiri sudah kami rekomendasikan dan ditetapkan oleh pak Walikota sebagai bangunan cagar budaya,” pungkasnya.
Sedangkan, Antropolog Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin Mansyur mengatakan, adanya temuan ini belum bisa memastikan benda tersebut.
“Tapi kalau itu pipa sambuangan saluran air, ada kemungkinan program Water Ledeng Jalan Ulin atau Jalan Ahmad Yani dulu. Sudah dibangun sambungan Water Ledeng atau PTAM sekarang, walaupun saat itu belum besar dan diresmikan saat itu,” katanya.
Kemungkinan lain, ujarnya, ada bekas sisa kapal uap, meski belum bisa memastikan.
Soalnya tidak ada dok kapal Belanda dekat dengan Benteng Tatas, itu hanya ada di daerah Kuin dan Sungai Jingah. Jadi, ia belum yakin, anggapan itu bagian dari kapal uap.
“Ada kemungkinan lain bahwa itu adalah benda dudukan meriam, bisa jadi ada, karena lokasinya berdekatan dengan Benteng Tatas yang di Masjid Sabilal Muhtadin,” jelasnya.
Ia menyatakan, untuk kapal uap kurang memungkinkan, soalnya lokasi yang paling besar itu ada di Kuin dan Sungai Jingah.
“Kalau untuk akses jalan di sini daerah perbatasan antara Kampung Pecinan (Cina) dan Sungai Mesa,” tukasnya.(shn/smr)