SEPUTARAN.ID, BANJARMASIN – Ancaman penyakit menular seperti TBC dan HIV/AIDS masih memerlukan perhatian serius. Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, kencing manis dan ISPA turut menunjukkan tren juga patut diwaspadai.
Mencegah penyakit itu meningkat, Dinas Kesehatan (Dinkes) Banjarmasin menggelar rapat koordinasi, advokasi dan sosialisasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), di Hotel Rattan Inn Banjarmasin, Berlangsung selama dua hari dari 4-5 November 2026.
Forum ini menjadi momentum penting untuk menyatukan visi, memperkuat konsolidasi, serta memacu semangat para tenaga kesehatan maupun pemangku kepentingan lintas sektor, agar bergerak seirama dalam pelayanan kesehatan.
Walikota Banjarmasin H M Yamin HR menyampaikan, pembangunan sektor kesehatan merupakan salah satu pilar penting dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, produktif, maju dan sejahtera di Banjarmasin.
Ia berharap, rapat koordinasi ini dapat memperkuat sinergi dan penyamaan persepsi seluruh pemangku kepentingan. “Ini penting sehingga upaya pencegahan dan pengendalian penyakit di Banjarmasin dapat berjalan lebih terarah, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Walikota juga menyoroti, tingginya kasus hipertensi dan menekankan pentingnya langkah preventif yang didukung anggaran masif.
“Kalau tidak salah, kasus hipertensi di tempat kita termasuk yang tinggi. Ini jadi catatan penting, pada 2027 mendatang alokasi anggaran penanganan hipertensi akan disiapkan sekitar Rp 800 juta. Karena itu, sosialisasinya harus kita lakukan jauh lebih masif lagi di masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinkes Banjarmasin Yanuar Diansyah menuturkan, pentingnya konsolidasi terhadap pencegahan dan pengendalian penyakit (P2P). Menurutnya, kegiatan ini dirancang untuk mencapai dua sasaran utama.
“Pertama berkaitan dengan kualitas layanan, kita ingin mengoptimalkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) kesehatan daerah melalui P2P, termasuk upaya pencegahan dan penanganan penyakit seperti Hipertensi maupun potensi penyakit lainnya secara cepat dan tepat,” tuturnya Yanuar.
Selain itu menjadi wadah strategis bagi penguatan lintas sektor antar SKPD maupun 28 Puskesmas se Banjarmasin, sehingga bisa menyusun rencana aksi terpadu berdasarkan kondisi riil kesehatan masyarakat saat ini.
Ia menyebutkan, Standar Pelayanan Minimal (SPM) kesehatan daerah mencapai 88 persen pada triwulan tiga. “Insya allah sampai akhir tahun capaian SPM 100 persen,” harapnya.
Sehingga, ia menyatakan, kedepan bakal lebih meningkatkan langkah promotif dan preventif ke masyarakat dalam hal P2P. (shn/smr)








