SEPUTARAN.ID, BANJARMASIN – Kondisi pertanian diBanjarmasin menghadapi sejumlah tantangan selama musim kemarau tahun ini.
Selain ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), lahan pertanian juga terdampak kekeringan dan intrusi air laut yang menyebabkan penurunan produksi padi di sejumlah wilayah.
Salah satu wilayah yang cukup rentan terdampak adalah Sungai Lulut, Kecamatan Banjarmasin Timur, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Banjar.
“Kebakaran yang terjadi di wilayah sekitar bahkan sempat merembet hingga ke sebagian lahan pertanian milik warga. Meski demikian, tidak seluruh area persawahan terdampak kebakaran,” ungkap Staf Bidang Pertanian DKP3 Banjarmasin Raihani, Minggu (1/11/2026).
Puncak musim panen di Banjarmasin berlangsung sekitar September. Namun, kondisi cuaca yang kering menyebabkan sejumlah lahan pertanian mengalami penurunan hasil produksi.
Dampak kekeringan terutama terlihat pada pengisian bulir padi. Secara kualitas beras, hasil panen masih tergolong baik. Akan tetapi, dari segi kuantitas mengalami penurunan, karena banyak bulir padi yang kosong atau hampa akibat tidak terisi sempurna.
“Kalau kualitas berasnya sendiri masih bagus. Namun, secara kuantitas produksinya menurun, karena banyak bulir padi yang hampa atau tidak terisi sempurna. Akibatnya, hasil panen yang diperoleh petani tidak sebanyak biasanya,” ucapnya.
Selain kekeringan, persoalan lain yang dihadapi petani adalah intrusi air laut. Masuknya air laut ke lahan persawahan menyebabkan air yang digunakan untuk pertanian menjadi asin.
Kondisi tersebut turut mengganggu pertumbuhan padi dan menyebabkan bulir tidak terisi sempurna sehingga berdampak pada penurunan produksi.
“Jadi, selain kekeringan kita juga mengalami intrusi air laut. Air laut yang masuk ke lahan persawahan menyebabkan air menjadi asin. Dampaknya, pertumbuhan padi terganggu dan bulirnya juga menjadi hampa atau kosong,” ujarnya.
Secara keseluruhan, diperkirakan sekitar 20 sampai 30 persen dari total luasan lahan pertanian di Banjarmasin terdampak kekeringan maupun intrusi air laut.
Sedangkan luas lahan pertanian di Banjarmasin mencapai sekitar 2.600 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.900 hingga 1.930 hektare merupakan lahan yang masih aktif dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.
Dari total lahan pertanian yang kita miliki sekitar 2.600 hektare, sekitar 1.930 hektare lebih merupakan lahan pertanian yang masih bisa digarap.
Sebaran lahan pertanian tersebut berada di sejumlah wilayah, meliputi Banjarmasin Timur, Banjarmasin Selatan, Banjarmasin Utara dan Banjarmasin Barat.
Dalam kondisi normal, petani di Banjarmasin berupaya mengoptimalkan pola tanam, agar dapat melakukan dua kali penanaman dalam setahun. Namun, pada tahun ini upaya tersebut terkendala kondisi cuaca.
Sebagian petani masih menjalankan satu kali masa tanam. Keterlambatan musim tanam juga membuat lahan yang ditanami belakangan lebih rentan terdampak kekeringan dan intrusi air laut.
Mengantisipasi dampak kekeringan, pemerintah telah mengupayakan pompanisasi. Sejumlah kelompok tani yang memiliki pompa air didorong untuk mengaktifkan peralatan tersebut guna membantu penyiraman dan memenuhi kebutuhan air di lahan persawahan.
“Upaya mengantisipasi kekeringan, kemarin kita sudah mengaktifkan pompanisasi. Beberapa kelompok tani yang memiliki pompa air mulai menggerakkannya untuk membantu mengisi air ke lahan pertanian yang mengalami kekeringan. Namun, kendalanya di beberapa lokasi air yang tersedia sudah terintrusi air laut sehingga menjadi asin,” ucapnya.
Di samping persoalan cuaca dan ketersediaan air, petani juga menghadapi ancaman serangan hama dan penyakit tanaman, salah satunya hama tungro yang dapat mengganggu pertumbuhan padi dan menurunkan hasil produksi.
Raihani mengatakan, gangguan tersebut ditemukan di sejumlah area pertanian, terutama di kawasan Sungai Lulut, Banjarmasin Timur. Wilayah ini juga menjadi salah satu kawasan yang paling rentan mengalami kekeringan.
Sementara itu, dampak intrusi air laut lebih banyak dirasakan di wilayah Banjarmasin Selatan, karena lokasinya yang berdekatan dengan kawasan perairan sehingga lebih rentan dimasuki air laut.
Berbagai persoalan tersebut menjadi tantangan bagi sektor pertanian di Banjarmasin pada musim kemarau tahun ini. Pemerintah berupaya melakukan penanganan melalui pompanisasi, bikin irigasi atau pintu air untuk mengatur pengairan di lahan sawah dan koordinasi dengan kelompok tani agar dampak kekeringan terhadap produktivitas pertanian dapat diminimalkan.
“Untuk hama itu pemberian obat-obatan, grobyokan, pemantauan UPT, Jadi itu yang dilakukan, kalau kekeringan itu sulit diatasi oleh berkaitan alam. Soalnya kondisi pasang surut, bukan irigasi yang bisa buka tutup pintu air,” tukasnya. (shn/smr)









