Seputaran.id
  • Umum
    • Pemerintahan
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Pendidikan
    • Politik
    • Religi
    • Seni Budaya
  • Kalsel
    • Banjarmasin
    • Daerah
  • Peristiwa
    • Kejadian
    • Kriminal
    • Hukum
  • Olahraga
    • Bola
    • Otomotif
  • Advetorial
    • Kementerian ATR / BPN
    • Pemprov Kalsel
    • DPRD Kalsel
    • Bank Kalsel
    • Dispersip Kalsel
    • Pemko Banjarmasin
    • DPRD Banjarmasin
    • Pemkab Tapin
    • Pemkab Barito Selatan
  • Nasional
  • Pemkab Gunung Mas
No Result
View All Result
  • Umum
    • Pemerintahan
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Pendidikan
    • Politik
    • Religi
    • Seni Budaya
  • Kalsel
    • Banjarmasin
    • Daerah
  • Peristiwa
    • Kejadian
    • Kriminal
    • Hukum
  • Olahraga
    • Bola
    • Otomotif
  • Advetorial
    • Kementerian ATR / BPN
    • Pemprov Kalsel
    • DPRD Kalsel
    • Bank Kalsel
    • Dispersip Kalsel
    • Pemko Banjarmasin
    • DPRD Banjarmasin
    • Pemkab Tapin
    • Pemkab Barito Selatan
  • Nasional
  • Pemkab Gunung Mas
No Result
View All Result
Seputaran.id
No Result
View All Result
  • Umum
  • Kalsel
  • Peristiwa
  • Olahraga
  • Advetorial
  • Nasional
  • Pemkab Gunung Mas
Home Umum

PWI Kutuk Keras Pembunuhan Wartawati di Banjarbaru

Minggu, 13 Apr 2025 | 12:27 WITA
Wartawati Juwita semasa hidup.

Wartawati Juwita semasa hidup.

Bagikan Di FacebookBagikan Di TwitterBagikan Di Whatsapp

SEPUTARAN.ID, JAKARTA – PWI mengutuk keras kasus pembunuhan Juwita, wartawan media online di Banjarbaru pada akhir Maret 2025. Kasus pembunuhan Juwita adalah bentuk kekerasan fisik terhadap seorang wanita yang memiliki profesi wartawan di bidang pers.

Diketahui, penjahat keji yang melakukan pembunuhan itu adalah seorang anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut (AL) bernama Jumran yang berpangkat Kelasi Satu.

Motivasi pembunuhan adalah masalah pertanggungjawaban asmara. Diketahui
bahwa Juwita telah menyuarakan permintaannya agar Jumran bertanggungjawab terhadap kekerasan seksual kepadanya.

Gubernur H Muhidin Temui Relawan, Tinjau Langsung Penanganan Karhutla

Gubernur H Muhidin Temui Relawan, Tinjau Langsung Penanganan Karhutla

Kamis, 3 Sep 2026 | 12:41
HPN 2027 di Lampung Komitmen Semakin Inklusif dan Kolaboratif

HPN 2027 di Lampung Komitmen Semakin Inklusif dan Kolaboratif

Rabu, 2 Sep 2026 | 23:16
Narkoba dan Balap Liar jadi Catatan PWI Kalsel untuk Kapolresta Banjarmasin

Narkoba dan Balap Liar jadi Catatan PWI Kalsel untuk Kapolresta Banjarmasin

Senin, 10 Agu 2026 | 20:09
Bank Kalsel Dukung Kompetisi QRIS Pajak dan Retribusi Daerah Banjarbaru 2026

Bank Kalsel Dukung Kompetisi QRIS Pajak dan Retribusi Daerah Banjarbaru 2026

Selasa, 28 Jul 2026 | 15:51

Namun, apa pun profesi korban, apa pun alasan pembunuhan dan apa pun jenis pengadilan yang akan menyidangkan kasus ini, baik sipil atau pengadilan militer, PWI meminta, agar semua penegak hukum dan para pemangku kepentingan memperhatikan satu hal: Kasus Ini Tidak Bisa Dianggap Sebagai Salah Satu Kejadian Yang Cukup
Disesali Dan Selanjutnya Diperlakukan Sebagai Tindak Pidana Bermotifkan Asmara Gempar Saja.

PWI Pusat berpendapat, pembunuhan terhadap Juwita adalah suatu pelanggaran kemerdekaan manusia untuk berpendapat dan mengkomunikasikan pendapat pribadi.

Bahwa pembunuhan yang dilakukan terhadap seorang wanita yang berprofesi sebagai wartawan itu adalah suatu tindakan jahat dan pelecehan terhadap profesi wartawan secara keseluruhan.

Secara profesi, wartawan di Indonesia telah sering menjadi sasaran bulan-bulanan pihak berwenang, baik oleh institusi penegak hukum maupun oleh institusi penjaga kedaulatan bangsa.

Kekerasan yang dialami oleh wartawan Indonesia berupa kekerasan non-fisik maupun kekerasan fisik yang bahkan telah menjadi catatan dengan nokta merah di UNESCO sebagai lembaga dunia yang memonitor giat jurnalistik.

Indonesia sering terlihat dan diwartakan UNESCO dan dunia sebagai negara terbelakang karena aparatnya sering melakukan kekerasan fisik kepada wartawan baik berupa penganiayaan ringan, penganiayaan berat, penyiksaan, penyekapan, penculikan dan bahkan pembunuhan.

PWI Pusat dapat memberikan data kekerasan yang dilakukan aparat kepada para wartawan di Indonesia sejak awal berdirinya Republik Indonesia hingga awal April 2025 saat pengawal Kapori Jendral Listyo Sigit Prabowo menempeleng pewarta foto yang meliput kegiatan Operasi Ketupat Candi 2025 di Semarang.

Tapi semua angka dan data tersebut tidak dapat menggambarkan berat dan berbahayanya pekerjaan seorang wartawan.

Konstitusi Republik Indonesia juga menjamin di dalam Pasal 28A Undang-Undang Dasar 1945, bahwa negara menjamin dan memberikan dasar konstitusional bagi perlindungan hak hidup dengan menyatakan bahwa setiap orang memiliki hak untuk hidup dan mempertahankan kehidupannya.

Di dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia, hak untuk hidup ini adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi (non-derogable) artinya tidak dapat dikurangi atau dibatasi dalam kondisi apa pun.

Di dalam Pasal 1 Ayat 6 Undang-Undang Tentang Hak Asasi Manusia definisi dari
pelanggaran hak asasi manusia adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian, membatasi, dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-undang ini, dan tidak mendapatkan, atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku.

Sudah terlalu lama rakyat Indonesia menjadi penonton yang tak berdaya saat melihat kesewenang-wenangan penguasa dan preman berseragam yang menyalahgunakan kekuasaannya terhadap warganya sendiri.

Oleh sebab itu, Indonesia tidak cukup hanya menyesali kejadian keji ini dan berharap agar kelak ke depannya tidak akan terjadi lagi. Indonesia tidak bisa memperlakukan kasus pembunuhan wartawan Indonesia sebagai suatu musibah yang dapat diambil hikmahnya.

Sekaranglah waktunya bagi para penegak hukum termasuk penjaga kedaulatan bangsa dan negara untuk melakukan bagiannya dalam menjamin keadilan dalam suatu persidangan militer yang terbuka bagi umum, bagi korban, dan bagi warga Indonesia, yang hak-hak dan nyawanya telah tercerabut akibat kekerasan. (rilis/smr)

Tags: banjarbaruJuwitaKutuk KerasPembunuhanPWIWartawati

Baca Juga

Pelayanan Tera Ulang di Banjarmasin Terus Mengalami Peningkatan

Pelayanan Tera Ulang di Banjarmasin Terus Mengalami Peningkatan

Kamis, 3 Sep 2026 | 21:35
Ketua Komisi II DPR RI dan Wakil Ketua Ombudsman Tinjau MPP Banjarmasin, Sampaikan GNPP 24/7

Ketua Komisi II DPR RI dan Wakil Ketua Ombudsman Tinjau MPP Banjarmasin, Sampaikan GNPP 24/7

Kamis, 3 Sep 2026 | 21:27
FKPWK Gagas Aruh Ganal untuk Satukan Aspirasi Warga Kalimantan

FKPWK Gagas Aruh Ganal untuk Satukan Aspirasi Warga Kalimantan

Kamis, 3 Sep 2026 | 15:58
Dapat Kabut Asap Kiriman, Kasus ISPA di Banjarmasjin Melonjak

Dapat Kabut Asap Kiriman, Kasus ISPA di Banjarmasjin Melonjak

Kamis, 3 Sep 2026 | 13:29
Next Post
Dispersip Kalsel Terima DAK Perpusnas RI Senilai Rp 2,49 Miliar

Dispersip Kalsel Terima DAK Perpusnas RI Senilai Rp 2,49 Miliar

  • Kontak Kami
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

PT. Seputaran Media Rezeki

No Result
View All Result
  • Umum
    • Pemerintahan
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Pendidikan
    • Politik
    • Religi
    • Seni Budaya
  • Kalsel
    • Banjarmasin
    • Daerah
  • Peristiwa
    • Kejadian
    • Kriminal
    • Hukum
  • Olahraga
    • Bola
    • Otomotif
  • Advetorial
    • Kementerian ATR / BPN
    • Pemprov Kalsel
    • DPRD Kalsel
    • Bank Kalsel
    • Dispersip Kalsel
    • Pemko Banjarmasin
    • DPRD Banjarmasin
    • Pemkab Tapin
    • Pemkab Barito Selatan
  • Nasional
  • Pemkab Gunung Mas

PT. Seputaran Media Rezeki

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist