SEPUTARAN.ID, BANJARMASIN – Warga Banjarmasin diminta bersiap menghadapi ancaman fenomena El Nino “Godzilla” yang diprediksi membawa kemarau ekstrem pada 2026 ini.
El Nino Godzilla julukan populer untuk fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat, ditandai pemanasan suhu permukaan laut yang ekstrem di Samudra Pasifik.
Peringatan keras disampaikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), menyusul proyeksi musim kering yang lebih panjang, panas dan minim curah hujan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Kalak BPBD) Banjarmasin Husni Thamrin menuturkan, kondisi tahun ini tidak bisa dianggap biasa, yang merujuk pada prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Tahun 2026 ini berbeda. Kemaraunya diprediksi lebih panjang dan lebih kering. Jadi kita harus waspada sejak dini,” ungkapnya, Senin (6/4/2026).
Meski bukan daerah dengan hutan luas, Banjarmasin tetap menghadapi ancaman serius kebakaran lahan. Belajar dari 2023, tercatat sedikitnya 41 titik kebakaran terjadi yang mayoritas dipicu aktivitas pembakaran sampah warga yang kemudian merembet ke lahan kering.
“Api kecil dari sampah bisa menjalar ke rumput kering dan menyebabkan kebakaran besar. Bahkan memicu kabut asap yang berbahaya,” sebutnya.
BPBD mengidentifikasi dua wilayah paling rawan yakni Banjarmasin Selatan dan Banjarmasin Utara yang memiliki lahan terbuka dengan vegetasi kering yang mudah terbakar saat suhu meningkat drastis. Kedua Kecamatan ini memiliki lahan cukup luas dengan vegetasi kering yang mudah terbakar saat musim kemarau. “Sebagian juga ada wilayah Banjarmasin Timur yang cukup rawan,” imbuhnya.
Tak hanya kebakaran, ancaman lain yang membayangi adalah krisis air bersih. Sumber air baku PDAM yang bergantung pada sungai berisiko mengalami intrusi air laut, sehingga kadar garam meningkat saat kemarau panjang.
“Kalau air sungai menjadi asin, tentu akan menyulitkan. Karena itu masyarakat diminta mulai berhemat air dan menyiapkan cadangan seperti tandon,” katanya.
Fenomena El Nino yang diperkirakan mulai terasa sejak Mei, diprediksi mencapai puncaknya pada Agustus, yang membawa suhu tinggi dan kekeringan ekstrem. Sehingga, BPBD menekankan bahwa kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata.
“Kita semua harus terlibat agar tidak terjadi bencana yang merugikan lingkungan. Warga juga diminta aktif melaporkan potensi kebakaran, melalui layanan darurat 112 disiagakan selama 24 jam untuk memastikan respons cepat di Lapangan,” tukasnya. (shn/smr)









