SEPUTARAN.ID, BANJARMASIN – Di Indonesia saat ini sedang menghadapi lonjakan kasus campak yang cukup signifikan. Berdasarkan data minggu ke-7 tahun 2026, tercatat 8.224 kasus suspek campak di seluruh Indonesia.
Hingga minggu ke-8 tahun 2026, Kementrian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 45 KLB campak tersebar di 11 provinsi. Bahkan pada awal 2026, laporan menyebutkan 20 anak meninggal di Sumenep dan beberapa balita di wilayah lain.
Seiring dengan itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Banjarmasin telah memperketat pengawasan wabah campak dengan pemantauan kasus sejak awal 2026. “Meski belum ada temuan kasus campak hingga saat ini,” ungkap Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Banjarmasin, Emma Arisnawati.
Berdasarkan data terakhir per tanggal 6 Maret 2026 lalu, ada 10 suspek campak yang terdiri dari 7 pria dan 3 wanita dengan rentang usia 0-10 tahun. Namun, hasil sampel yang diperiksa Laboratorium Kesehatan Masyarakat Kota Banjarbaru menunjukan semuanya negatif.
“Jadi belum ada temuan kasus, tapi upaya mitigasi dengan mendorong strategi peningkatan cakupan imunisasi campak di Puskesmas dan Fasilitas Kesehatan (Faskes) lainnya, untuk memberikan layananan imunisasi,” bebernya.
Walau begitu, ia tak memungkiri masih ada beberapa orang tua di Banjarmasin yang enggan anaknya di vaksin campak atau imunisasi lengkap dengan berbagai alasan. “Kendati demikian, Dinkes Banjarmasin terus melaksanakan Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) di tengah masyarakat akan pentingnya imunisasi untuk mencegah wabah penyakit menular,” jelasnya.
Pendekatan kepada masyarakat terhadap ini akan melibatkan lintas sektor, termasuk tokoh masyarakat dan organisasi agama, untuk mengkampanyekan pentingnya imunisasi. Dalam menindaklanjuti ini, Dinkes Juga akan segeranya mengeluarkan Surata Edaran (SE) tentang kewaspadaan wabah campak ini.
Lebih lanjut, penyakit campak dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti pneumonia, diare berat, radang otak (ensefalitis) dan Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE), penyakit saraf fatal yang muncul bertahun-tahun setelah infeksi campak masa kanak-kanak.
Jika sudah terinfeksi campak ada indikasi menderita penyakit SSPE yang mana belum ada obat untuk menyembuhkan. “Maka dari itu, diharapkan masyarakat bisa paham bahaya nya campak, supaya anak nya mau di imunisasi,” tukasnya. (shn/smr)









