SEPUTARAN.ID, BANJARMASIN – Memasuki hari ke-16, Tim DVI Polda Kalimantan Selatan (Kalsel) bersama Mabes Polri berhasil mengidentifikasi 16 jenazah korban Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8.
Adapun nama korban KM Virgo Transport 8 yang berhasil teridentifikasi yakni, Tri Sutrisno asal Kediri, Jawa Timur (30 tahun), Riski Ananta Agusena asal Kudus, Jawa Tengah (23 tahun), Guntur Aji Pangestu asal Kudus, Jawa Tengah (27 tahun), Triyono Basuki asal Surabaya, Jawa Timur (45 tahun), Tihwin Nuryanto asal Madiun, Jawa Timur (43 tahun), Sugiatno asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan (41 tahun).
Lalu, Ilham Muhammad Rozzaq asal Jepara, Jawa Tengah (21 tahun), Yuli Purwanto asal Tulungagung, Jawa Timur (47 tahun), Muhammad Kholis asal Surabaya, Jawa Timur (52 tahun), Surono asal Jombang, Jawa Timur (38 tahun), Muhammad Adam Assegaf asal Kudus, Jawa Tengah (19 tahun), Susanto asal Blitar, Jawa Timur (36 tahun), Maulana Purwo Wibowo asal Cilacap, Jawa Tengah (19 tahun), Wati asal Pangandaran, Jawa Barat (48 tahun),
Yaya Carya asal Cirebon, Jawa Barat (58 tahun) dan Bambang Setya Budi asal Malang, Jawa Timur (56 tahun).
Kabid Dokkes Polda Kalsel Kombes dr Moch Sofwan menuturkan, total 41 korban telah teridentifikasi oleh tim DVI Polda Kalsel.
“Belum teridentifikasi 29 orang. Dari total 70 korban yang telah diterima di RS Bhayangkara,” ujar Moch Sofwan, di konferensi pers di RS Bhayangkara, Senin (28/9/2026).
Pihaknya masih terus melakukan proses identifikasi bersama dengan tim dari Mabes Polri. Proses identifikasi dilakukan untuk korban yang baru tiba, baik itu yang berasal dari kapal maupun dari temuan dari Kalimantan Tengah (Kalteng).
“Kami mohon doa dan dukungan agar korban yang masih dalam identifikasi bisa segera teridentifikasi,” sebutnya.
Kabid DVI Pusdokkes Polri Kombes Pol dr Wahyu Hidajati menuturkan, kondisi jenazah yang ditemukan membutuhkan pemeriksaan forensik secara lebih cermat dibandingkan hari pertama.
Proses pembusukan alami memicu kendala utama seperti perubahan struktur wajah, rusaknya sidik jari, hingga hilangnya beberapa bagian alat gerak korban.
“Jadi tim forensik tidak lagi dapat mengandalkan pemeriksaan sidik jari, karena kondisi jenazah,” terangnya.
Wahyu melanjutkan, tim kemudian mengandalkan sejumlah data sekunder, antara lain ciri medis, pemeriksaan gigi, properti yang melekat pada korban, serta pengujian DNA.
“Memasuki hari ketiga dan seterusnya, pencocokan sidik jari sudah tidak memungkinkan, sehingga kami mengandalkan data sekunder serta pengujian DNA yang dikirimkan secara periodik ke laboratorium di Jakarta. Karena tes DNA membutuhkan waktu minimal lima hari, kami memohon kesabaran dari keluarga korban,” jelasnya.
Untuk mempercepat proses identifikasi dan penyerahan jenazah kepada keluarga, seluruh tim gabungan DVI bekerja tanpa libur, termasuk pada akhir pekan.
Setiap kantong jenazah yang diterima langsung diperiksa pada hari yang sama untuk kemudian dicocokkan dengan data antemortem.
Ia menyampaikan, upaya tersebut terus dilakukan untuk mempercepat proses identifikasi korban. “Pada rilis ketujuh, Tim DVI berhasil mengidentifikasi 16 jenazah,” ujarnya.
Proses identifikasi selanjutnya tetap dilakukan dengan mencocokkan data postmortem dan antemortem menggunakan metode yang sesuai dengan kondisi masing-masing jenazah. (shn/smr)








