SEPUTARAN.ID, BANJARMASIN – Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap kecelakaan KMP Virgo Transport 8 di Laut Jawa, telah memasuki hari ke-21 sejak insiden terjadi pada 13 September 2026.
Sebanyak 188 korban telah berhasil ditemukan dan dievakuasi tim SAR gabungan. Dari jumlah tersebut, 108 orang ditemukan dalam kondisi selamat, sementara 80 lainnya meninggal dunia. Basarnas masih mencatat 55 korban dalam proses pencarian.
Memasuki fase baru operasi, strategi pencarian mulai diubah. Basarnas tidak lagi mengandalkan pencarian di dalam bangkai kapal, melainkan memperkuat penyisiran di permukaan laut dan wilayah pesisir yang dinilai berpotensi menjadi lokasi hanyutnya korban.
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Kabasarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga korban serta memaparkan evaluasi dan penyesuaian strategi operasi ke depan.
“Hingga hari ke-21, Tim SAR Gabungan telah berhasil mengevakuasi 188 korban, dengan rincian 108 orang selamat dan 80 orang meninggal dunia. Saat ini, masih ada 55 korban yang berada dalam proses pencarian,” jelasnya.
Ia menegaskan, fokus operasi saat ini bergeser dari jumlah kekuatan armada menuju reassessment lokasi pencarian, pergerakan arus dan potensi area hanyut di sepanjang wilayah pesisir.
“Operasi skala besar ini sebelumnya telah melibatkan lebih dari 1.200 personel gabungan (TNI, Polri, kementerian/lembaga dan swasta), 24 kapal besar, 7 pesawat udara, serta 63 penyelam spesialis underwater SAR,” ungkap M Syafii, di Ruang Rapat Barito, Pelindo Sabtu (3/10/2026) malam.
Wilayah penyisiran juga telah meluas melintasi tiga provinsi. Mulai dari Kalimantan Selatan (Kalsel), Kalimantan Tengah (Kalteng), hingga Kalimantan Barat (Kalbar).
Meski tim penyelam berhasil melakukan penetrasi sejauh 10 hingga 15 meter ke bagian dalam kapal dan membuka sejumlah akses jendela, namun tidak ditemukan lagi korban di dalam bangkai kapal sejak hari ke-19.
Proses penyelaman di kedalaman 27 meter tersebut menghadapi risiko keselamatan yang amat tinggi bagi para penyelam, antara lain struktur kapal tidak stabil, jarak pandang sangat rendah, bahaya fisik dan kimia hingga batas waktu kerja (Bottom Time).
Kapal berisiko mengalami perubahan kemiringan atau pergeseran secara mendadak yang dapat membahayakan penyelam di dalam lambung serta visibilitas yang terbatas akibat endapan sedimen dan puing (debris) rawan memicu disorientasi.
“Tumpahan minyak serta material tajam di dalam ruang sempit juga menambah tingkat kerawanan operasi. Bahkan, penggunaan tabung skuba pada kedalaman 27 meter membatasi waktu penyelaman efektif hingga maksimal 20 menit per sesi,” bebernya.
Lantas, mempertimbangkan rasio keselamatan tim evakuasi dan kompleksitas medan underwater, Basarnas menetapkan dua arah kebijakan utama untuk kelanjutan operasi KMP Virgo Transport 8.
Pertama, sesuai amanat UU No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, pemerintah mendorong tim salvage untuk segera melakukan proses penstabilan dan pengangkatan badan kapal.
“Operasi pencarian langsung di dalam lambung kapal akan dilanjutkan kembali secara terukur setelah kapal berhasil diangkat dan dinyatakan dalam kondisi stabil,” jelasnya.
Selanjutnya, operasi SAR tetap berjalan secara simultan bersamaan dengan proses salvage.
“Fokus pencarian dialihkan penuh ke penyisiran permukaan laut dan wilayah pesisir pantai di kawasan Kalsel, Kalteng dan Kalbar dengan mengkalkulasi ulang pergerakan angin, gelombang, serta arah arus laut,” tukasnya. (shn/smr)









