Site icon Seputaran.id

Walikota Banjarmasin Inginkan Kolaborasi Lintas Daerah untuk Penanganan Banjir

Walikota Banjarmasin HM Yamin saat meninjau daerah terdampak Banjir di kawasan Sungai Lulut. (foto : shn/seputaran)

SEPUTARAN.ID, BANJARMASIN – Air pasang dan hujan mengguyur menyebabkan sejumlah wilayah di Banjarmasin terdampak banjir.

Atas hal itu, Walikota Banjarmasin HM Yamin HR didampingi istri yang juga Ketua TP PKK Banjarmasin Hj Neli Listriani (Ketua Komisi IV DPRD Banjarmasin) beserta DPRD, Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Banjarmasin Husni Tamrin, Plt Camat Banjarmasin Timur, Kelurahan serta jajaran terkait lainnya tinjau sekaligus memberikan bantuan kepada warga yang terdampak banjir di salah satu wilayah terkena banjir, yakni di Kelurahan Sungai Lulut, Kecamatan Banjarmasin Timur, Sabtu (3/1/2026) pagi.

Langkah ini merupakan wujud kepedulian dan komitmen pemerintah untuk hadir di tengah masyarakat yang sedang menghadapi bencana.

Peninjauan difokuskan di RT 08 RW 01 Sungai Lulut Dalam, yang saat ini kondisinya terendam cukup tinggi..Ketinggian air bahkan telah mencapai hampir setengah lutut orang dewasa akibat kombinasi air pasang sungai dan curah hujan yang masih sangat tinggi.

Wilayah Kelurahan Sungai Lulut memiliki sedikitnya lima sungai yang saling terhubung. Ada Sungai Brahman, Sungai Simpang Limau, Sungai Bamban, Sungai Gusang.

“Sungai Lulut sendiri berbatasan langsung dengan Kabupaten Banjar, sehingga penanganannya membutuhkan kolaborasi lintas daerah,” kata Walikota Banjarmasin HM Yamin HR.

Ia berharap, ke depan ada kolaborasi antara Pemerintah Kota Banjarmasin dan Pemerintah Kabupaten Banjar, terutama dalam upaya normalisasi dan perbaikan aliran sungai.

Normalisasi dan revitalisasi sungai diharapkan dapat dilaksanakan secara maksimal dan tidak dilakukan pada musim hujan atau saat air pasang, melainkan pada musim kemarau, agar hasilnya lebih optimal.

“Kami sangat prihatin dengan kondisi yang dialami warga dan menjadi perhatian,” ujarnya.

Ia menyatakan, Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin akan terus berkoordinasi. “Tadi kami juga telah berkomunikasi langsung dengan Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III agar dapat melihat langsung kondisi warga di RT 08 Sungai Lulut,” katanya.

Selain normalisasi dan revitalisasi sungai, Yamin menilai, perlunya pembangunan saluran drainase multifungsi, yang tidak hanya berfungsi sebagai aliran air, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai akses jalan bagi warga, baik pejalan kaki maupun kendaraan roda dua, dengan sistem saluran tertutup.

Ia juga mengimbau, kesadaran masyarakat, khususnya warga yang bermukim di bantaran sungai, agar tidak memperluas bangunan hingga melewati batas sempadan sungai.

Kalau bangunan terus menjorok ke sungai, mungkin rumahnya terasa lebih luas, tapi dampaknya mengganggu aliran sungai dan merugikan masyarakat secara luas. “Pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri tanpa ada dukungan masyarakat,” katanya.

Walikota Yamin melanjutkannya, sebagai langkah tanggap darurat, sebuah Mushola dengan posisi lebih tinggi sementara dijadikan tempat evakuasi warga, yang terhubung langsung dengan RT setempat. Warga yang terdampak kemungkinan akan bertahan di lokasi tersebut selama air masih pasang.

Ia menyatakan, nanti bersama jajaran akan mulai mengeruk dan normalisasi sungai saat musim kemarau yang akan datang, agar tidak terjadi kejadian seperti ini lagi.

Dan berharap, ke depan kejadian seperti ini tidak terjadi dan terus berulang lagi, kemudian pemerintah terus berupaya dengan berkoordinasi untuk bisa mengantisipasi. “Minimal mengurangi, tidak menggenang rumah warga Banjarmasin,” sebutnya.

Sementara itu, Kalak BPBD Banjarmasin Husni Thamrin menuturkan, Kelurahan Sungai Lulut, Kecamatan Banjarmasin Timur, merupakan wilayah garda terdepan perbatasan yang paling awal menerima dampak banjir kiriman dari wilayah Martapura.

Kondisi ini membuat Sungai Lulut menjadi titik krusial, karena limpasan air dari daerah hulu dipastikan akan mengalir ke kawasan ini, bahkan berpotensi berdampak hingga Pemurus Baru, Jalan Pramuka.

Namun, persoalan banjir di Sungai Lulut tidak dapat ditangani oleh Pemko Banjarmasin secara mandiri. Diperlukan kolaborasi lintas daerah dan lintas sektor, mengingat sungai merupakan wilayah bersama yang tidak dibatasi administrasi pemerintahan.

Husni menyebut, hal penting yaitu kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten sekitar, termasuk Kabupaten Banjar, Banjarbaru, Tanah Laut, dan Barito Kuala (Batola), melalui forum kerja sama Banjar Bakula.

Menurutnya, pihaknya telah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III, guna memfokuskan perhatian pada sungai-sungai yang setiap tahun menjadi langganan banjir, khususnya Sungai Lulut.

“Penanganan ke depan diarahkan pada perencanaan yang lebih matang seperti arahan Walikota, dengan pelaksanaan normalisasi sungai dan pembenahan drainase dilakukan saat musim kemarau, agar kesiapsiagaan saat musim hujan dapat lebih optimal,” jelasnya.

Terkait kondisi di lapangan, BPBD Banjarmasin telah melakukan evakuasi warga secara situasional, terutama pada malam hari saat ketinggian air meningkat signifikan dan berpotensi membahayakan. “Ada mengukur ketinggian air hingga 13 cm,” imbuhnya.

Kemudian yang terdampak sebanyak 15 kepala keluarga dengan total 39 jiwa dievakuasi ke lokasi yang lebih aman.

Selain itu, bantuan logistik juga disalurkan kepada warga terdampak, serta rencana pendirian dapur umum untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat selama masa genangan.

Sedangkan, Plt Camat Banjarmasin Timur Eka Rahayu Normasari menuturkan, selain di RT 08 memang ada yang lainnya terdampak hal yang sama.Serta ada enam RT yang mengalami dampak bervariatif. “Cuma terdampak lumayan parah disini di RT 8 ini mencapai 114 KK. Jadi tidak hanya di RT 8 ini yang menjadi perhatian dan diberikan bantuan,” katanya.

Untuk titik lain juga tengah pendataan dan dicek, tidak hanya asal terendam. “Misalnya akses tidak bisa dilewati lagi, bekerja tak dapat dan lainnya,” ucapnya.

Eka menjelaskan, pihaknya juga menyampaikan data ke Dinas Sosial (Dinsos) untuk mendapatkan bantuan sosial (bansos). “Nantinya di cek di lapangan apakah memang layak mendapatkan bantuan atau tidak,” katanya.

Dari sisi kesehatan, Dinkes telah mengarahkan Puskesmas terdekat untuk mencek dan siaga bagi warga terdampak banjir.

“Soalnya khawatir pasti ada potensi penyakit timbul, seperti disentri, batuk, pilek, muntaber (muntah dan berak), malaria, belancat (kutu air) dan lainnya, Semoga airnya cepat turun,” pungkasnya.

Salah seorang warga Masitah menuturkan, baru dua hari mengungsi, karena air yang semakin tinggi. Dan kondisi rumah terendam sudah sampai lutut.

“Jadi sekeluarga mengungsi di Mushola sementara. Dan kondisi air naik sudah ada setengah bulan ini,” ungkapnya.

Masitah menyebut, dengan kondisi seperti ini tidak bekerja lagi, karena hanya mengurus rumah tangga. “Jadi diperlukan bahan pokok (bapok) dan keperluan lainnya,” tukasnya.(shn/smr)