Site icon Seputaran.id

Tekanan Geopolitik, BEI Kalsel Siap Luncurkan ETF Emas

Workshop wartawan daerah dengan BEI Kalsel. (foto : shn/seputaran)

SEPUTARAN.ID, BANJARMASIN – Pengaruh konflik Geopolitik terhadap pasar modal pada paruh pertama 2026, membuat PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan Pengembangan Exchange Traded Fund (ETF) Emas di Pasar Modal Indonesia.

Rencananya bakal mulai dilaunching pada kuartal II 2026, serta menerapkan reformasi transparansi pasar.

Diketahui, pelemahan IHSG dan rupiah terjadi seiring aktivitas jual asing sejak awal 2026. Kemudian indeks saham global sebagian terkoreksi mengalami penurunan baik sebelum dan pasca Geopolitik.

Lalu IHSG menujukkan penurunan lebih dalam akibat naik nya tensi Geopolitik. Serta investor asing mencatatkan net sell di pasar saham dan obligasi RI sejak awal 2026.

IHSG melemah sepanjang 2026 di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan lonjakan harga komoditas.

Pengembangan ETF Emas di Pasar Modal Indonesia, karena emas bertumbuh paling pesat dibandingkan kelas aset lainnya.

Kemudian revolusi investasi emas menjadi instrumen ETF. Apalagi, ETF Emas / Gold ETF merupakan instrumen investasi yang telah lama berkembang di Bursa Global.

Ada keunggulan dan berdasarkan survei minat investor, ETF emas merupakan produk menarik diterbitkan di Pasar Modal Indonesia.

Skema ETF emas membuka peluang investasi ke investor institusi maupun ritel.

Kepala Kantor Perwakilan BEI Kalsel, Yuniar menuturkan, pengaruh geo politik terhadap pasar modal, menjadi fokus semua dan sangat mempengaruhi kondisi pasar dan IHSG menurun mendapatkan tekanan cukup besar. Sehingga berdampak luas terhadap investasi dari para investor.

Kemudian juga mendorong penarikan dana investor asing dari pasar modal. “Membuat net sell di pasar saham juga membesar, sehingga memberikan tekanan di pasar modal kita,” ungkap Yuniar, usai menggelar Workshop Wartawan Daerah 2026, di Boncafe Dutamall Banjarmasin, Rabu (29/4/2026).

Diharapkan dengan kondisi seperti ini investor semakin cermat mencari peluang, karena dalam kondisi apapun di pasar modal ketika ada penurunan berarti kesempatan memiliki saham under value.

Ini merupakan harga saham dibawah harga wajarnya, sehingga ketika kondisi membaik dan pemulihan ada akan mendapatkan peningkatan keuntungan yang signifikan.

“Salah satu hal perlu kita pahami, masalah geo politik menjadi perhatian semua negara. Jadi yakin tidak bakal dibiarkan berlarut-larut, akan ada semangat dan perhatian dari semua negara untuk bisa meredam dari dampak geo politik ini,” bebernya.

Khusus di pasat modal pihak BEI mendorong optimisme investor, karena ini kesempatan bagus memiliki saham yang kinerja bagus dan terpengaruh geo politik jadi turun.

“Kita dorong terus masyarakat apapun kebijakan pemerintah percaya, untuk membangun bangsa dan bakal dicari guna mendukungnya. Di pasar modal kita akan lihat peluang itu ada dari masing-masing perusahaan terlibat dalam projek,” jelasnya.

Menurutnya, produk investasi emas minat masyarakat umum sangat luas. Di Banjarmasin minat nya cukup besar dan beberapa kali edukasi rata memang punya investasi emas.

Sekarang di Pasar Modal Indonesia ada dibuat ETF Emas.

“Ini merupakan salah satu terobosan, biasanya juga ETF isinya surat berharga di pasar modal. Jadi kita tambah entitas investasi lagi, harapan nya membuka khasanah para masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, kalau mau investasi emas ada bentuknya dalam ETF, reksa dana tapi bisa diperjual belikan seperti perdagangan saham di pasar modal.

Dalam upaya menciptakan pasar yang lebih sehat dan wajar, BEI juga memberlakukan aturan baru guna meningkatkan likuiditas dan transparansi kepemilikan saham.

Salah satu regulasi utama yang tengah dikawal adalah peningkatan syarat minimal jumlah saham beredar di publik free float dari sebelumnya 5 persem menjadi 15 persen.

Peningkatan minimum jumlah saham yang beredar satu emiten minimal 15 persen. Makanya jangan kaget bila ada beberapa emiten yang akan delisting, karena memang mereka tidak memenuhi persyaratan ini. Guna memberikan ruang bagi perusahaan tercatat untuk menyesuaikan diri, BEI menerapkan masa transisi secara bertahap.

Pemenuhan batas free float ini diberi tenggat waktu hingga 2027 bagi emiten berkapitalisasi pasar di bawah Rp5 triliun, dan hingga tahun 2029 bagi perusahaan raksasa berkapitalisasi pasar di atas Rp5 triliun.

“Penyesuaian ini diproyeksikan akan membuat pasar modal Indonesia sejalan dengan best practices bursa global dan standar lembaga pemeringkat internasional,” tukasnya. (shn/smr)