SEPUTARAN.ID, BANJARMASIN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarmasin memetakan sejumlah wilayah yang dinilai rawan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) pada musim kemarau 2026.
Meski status belum siaga darurat seperti daerah lain. Tercatat ada 23 titik Karhutla yang terjadi di Banjarmasin.
Dari periode 15 Juli 2026 sampai terakhir 10 Agustus 2026, di kawasan TPAS Basirih dengan luasan sekitar 2.351 hektare.
“Disebabkan sebagian karena membakar sampah, berarti oleh adanya kelalaian,” Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Banjarmasin H. Husni Thamrin, usai mengikuti Apel Gelar Pasukan Penanggulangan Karhutla yang dipusatkan di halaman Polresta Banjarmasin, Selasa (11/8/2026).
Ia menyatakan, pemetaan dan pengawasan terus dilakukan, terutama terhadap wilayah yang didominasi lahan semak belukar dan gambut.
Bahkan, kawasan perbatasan kota menjadi salah satu fokus pengawasan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD, karena dinilai memiliki potensi lebih besar terhadap kebakaran lahan.
“Pengawasan dan pemantauan terus diintensifkan, khususnya pada area pinggiran kota yang berbatasan langsung dengan kabupaten tetangga seperti kawasan Banjarmasin Utara, Timur dan Selatan,” bebernya.
Dalam penanganan Karhutla, BPD Banjarmasin juga mengandalkan peran aktif masyarakat melalui Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) swakarsa.
Mengingat, keberadaan ribuan relawan pemadam kebakaran menjadi salah satu potensi yang terus dikonsolidasikan untuk mempercepat penanganan awal ketika ditemukan titik api.
“Banjarmasin memiliki potensi besar dari keberadaan BPK swakarsa. Kami merangkul dan mengonsolidasikan rekan-rekan BPK agar penanganan awal titik api dapat dilakukan secara cepat sebelum meluas,” jelasnya.
Selain menyiagakan personel dan armada tangki penyalur air, BPBD Banjarmasin secara kontinu memantau perkembangan data satelit. Koordinasi dengan posko bencana daerah juga terus diperkuat untuk mendukung respons terhadap potensi Karhutla.
Ia mengimbau, masyarakat tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan, terutama di sekitar lahan kering yang berpotensi memicu kebakaran.
“Walau ditunggu tetap saja itu berbahaya, lebih baik tidak usah sama sekali. Soalnya sampah bisa dijadikan kompos dan bernilai ekonomis daripada dibakar,” ucapnya.
Husni Tamrin mengungkapkan, sebagian besar insiden kebakaran lahan dipicu oleh kelalaian kecil seperti membakar sampah lalu ditinggalkan dan membuang puntung rokok juga yang lalu menjalar kesekitar.
“Kami memohon kerja sama masyarakat untuk saling menjaga lingkungan agar Banjarmasin terhindar dari bahaya kabut asap,” pintanya.
Apalagi saat ini kondisi cuaca panas, bisa terjadi kebakaran lahan. “Diimbau dulu masyarakat, bila masih ada saja mengindahkan tentu ada sanksi diberikan,” tukasnya. (shn/smr)
