Site icon Seputaran.id

Proyek Jalan Nasional Tanbu–Kotabaru Rp27,1 Miliar Terkendala Aspal, Jarak Angkut 189 Km Disorot

Kondisi lubang yang belum ditambal di jalan Cantung, Kotabaru, tanpa rambu dinilai membahayakan pengguna jalan. (FOTO:IST)

 

SEPUTARAN.ID, BANJARMASIN – Sulitnya memperoleh aspal panas diduga menjadi salah satu penyebab buruknya perbaikan jalan nasional di Tanah Bumbu dan Kotabaru. Persoalan itu diperparah jarak pengangkutan material yang memakan waktu sekitar empat hingga lima jam ke lokasi pekerjaan, sehingga berisiko menurunkan kualitas material.

“Preservasi ruas jalan Mantewe-Serongga, penutupan lubang menunggu aspal datang dari Banjarmasin. Ada kelangkaan aspal,” kata Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.5 BPJN Kalsel, Dienes Pramudya Wardani, Jumat (17/4/2026).

Saat disinggung soal potensi penurunan kualitas aspal akibat perjalanan jauh, Dienes mengatakan penyedia jasa, PT Berkat Utama SKP, telah mengantisipasi hal tersebut.

“Suhu penghamparan dan pemadatan sudah diperhitungkan oleh penyedia jasa dengan pemasangan terpal pada truk pengangkut,” ujarnya.

Menanggapi keluhan warga terkait tambalan aspal yang dinilai tidak rata dan bergelombang, Dienes menyebut lapisan yang terlihat saat ini baru lapisan pondasi atas.

“Penutupan lubang sementara dengan LPA, agar tidak membahayakan keselamatan pengguna jalan selama menunggu penutupan dengan CAP (campuran aspal panas),” katanya.

Dienes juga membantah proyek tersebut minim rambu dan tanpa plang pekerjaan. Ia kemudian menunjukkan sejumlah foto jalan berlubang dengan rambu peringatan, yang bertanggal 26 Maret 2026. Selain itu, ia juga memperlihatkan dua foto plang proyek di Mantewe, berikut nama kontraktor dan nilai pekerjaan, meski tanpa tanggal pengambilan gambar.

Sekadar diketahui, jarak pengambilan aspal dari Banjarmasin ke Mantewe sekitar 189 kilometer. Jika melalui jalur tersingkat, melewati jalan elak Banjarbaru-Batulicin. Normalnya jarak ini dapat ditempuh truk sekitar empat sampai lima jam.

Kendala material serupa juga terjadi pada proyek Serongga-Kerang di Kalimantan Timur. Balai menyebut penambalan jalan terhambat proses pengiriman aspal serta masa cuti bersama hari besar keagamaan, yang membuat sejumlah pekerja lapangan pulang kampung.

“Balai telah menginstruksikan rambu-rambu peringatan dan telah ditindaklanjuti oleh tim lapangan di beberapa titik jalan berlubang, bukan di setiap lubang. Pekerjaan akan dilanjutkan lagi mulai 20 April,” ujarnya.

Sepanjang ruas jalan nasional dari Tanah Bumbu, Kotabaru hingga perbatasan Kaltim di Kerang, terdapat dua proyek yang tengah berjalan. Total anggaran keduanya mencapai Rp27,1 miliar.

Ruas Mantewe-Tanah Bumbu hingga Serongga-Kotabaru dikerjakan PT Berkat Utama SKP dengan nilai Rp7,9 miliar. Sementara ruas Serongga-Kerang Kaltim dikerjakan PT Salsabila Oniresh Nusantara dengan nilai Rp19,2 miliar.

Kedua pekerjaan itu sebelumnya menuai protes warga. Keluhan muncul mulai dari kualitas tambalan aspal yang dianggap bergelombang dan tidak rata, rambu mini tanpa reflektor, hingga ketiadaan plang proyek.

Lalu bagaimana kondisi di lapangan?

Pada Senin (13/4/2026), wartawan berkesempatan melintasi jalan nasional dari Cantung, Kotabaru, hingga Mantewe. Di Cantung, sejumlah kupasan aspal terlihat tanpa rambu, terutama di pusat kota. Rambu perbaikan jalan baru tampak di depan Polsek Cantung, itu pun dalam ukuran kecil.

“Mulai sebelum lebaran dikupas, sampai sekarang belum diperbaiki. Anak-anak sekolah lewat sini setiap hari. Saya khawatir sekali,” kata Tamrin, warga setempat.

Dari Cantung ke Serongga, tampak beberapa ruas jalan mulai diberi garis penanda. Namun, kondisi berbeda terlihat saat memasuki perbatasan Kotabaru-Tanah Bumbu. Di perbatasan Tanah Bumbu-Banjar, tepatnya di Mantewe, penambalan aspal memang sudah dilakukan di sejumlah titik, di antaranya dekat Puskesmas Mantewe dan pasar harian Mantewe.

Namun, di Mantewe, sejumlah rambu penanda pekerjaan jalan juga tampak rusak, diduga terlindas kendaraan berat. Wartawan sempat membetulkan posisi rambu yang tergelat agar kembali dapat dilihat pengguna jalan.

“Sudah ada beberapa anak sekolah yang jatuh di sana,” kata Mama Chandra saat mengomentari ruas jalan Mantewe yang dilubangi namun belum ditambal.

Tambalan aspal di dekat pasar dan puskesmas itu pun terlihat tidak rata dan bergelombang. Warga yang menyaksikan pekerjaan tersebut mengatakan pengurukan aspal dilakukan secara manual.

Saat melintas di ruas jalan dari Kotabaru hingga perbatasan Tanah Bumbu, saya itu wartawan juga tidak melihat satu pun plang proyek.(saa/smr)