SEPUTARAN.ID, BANJARMASIN – Penanganan sektor pendidikan di Banjarmasin belum sepenuhnya tuntas. Masalah bangunan tua, ruang belajar lapuk, hingga fasilitas dasar yang tak lagi layak, masih ditemukan.
Pada 2026, Dinas Pendidikan (Disdik) Banjarmasin memastikan perubahan besar dalam pola penanganannya. Sebanyak 32 sekolah bakal dibenahi sekaligus. Tidak lagi tambal sulam per kelas, melainkan menyeluruh satu kawasan sekolah.
Kepala Disdik Banjarmasin Ryan Utama menuturkan, masih terdapat bangunan sekolah dalam kondisi rusak berat. Meski sebagian besar tergolong rusak ringan atau baik, pendekatan lama dinilai kurang efektif menyelesaikan persoalan secara tuntas.
“Selama ini rehab yang dilakukan bersifat parsial, satu kelas sedikit-sedikit. Padahal biasanya kerusakan satu sekolah itu menyeluruh. Jadi di 2026 ada 32 sekolah yang akan kita lakukan perbaikan,” ungkap Ryan, Kamis (24/2/2026).
Menurutnya, kebijakan ini merupakan arahan langsung Walikota dan Wakil Walikota Banjarmasin agar pembenahan dilakukan lebih komprehensif. Dari 32 sekolah tersebut, lima di antaranya akan mendapat rehabilitasi total. “Prioritas utama menyasar bangunan lama era 1970-an dan peninggalan program SD Inpres,” terangnya.
Ciri khasnya masih terlihat dari ventilasi berkawat yang menjadi penanda konstruksi lama. “Ciri bangunan sekolah lama, kalau ventilasinya masih berkawat, itu biasanya SD Inpres dan itu masih ada sampai sekarang,” jelasnya.
Salah satunya adalah SMP Negeri 26 Banjarmasin. Sekolah ini akan direhab total lantaran masuk kategori rusak berat. Lantai disebut bergoyang, bahkan bangunan WC dalam kondisi miring.
Sementara itu, SMP Negeri 35 Banjarmasin juga masuk daftar prioritas. Selain pembenahan fisik, sekolah ini akan difokuskan pada peningkatan daya tampung. Hal ini menyusul pertumbuhan pemukiman yang cukup padat di wilayah Sungai Andai, Kecamatan Banjarmasin Utara.
Di tingkat SD, SDN Pengambangan 8 bakal menjalani rehabilitasi total sekaligus proses regrouping. SDN Pengambangan 10 akan digabungkan dengan sekolah tersebut. “Keputusan itu diambil disdik, karena kondisi SD Pengambangan 10 yang berada di atas titian sungai dinilai memprihatinkan dan tidak efisien secara operasional,” katanya.
Selain itu, karena faktor jumlah siswanya yang sedikit. Dan langkah ini dilakukan sekaligus menjadi bagian dari penataan akses pendidikan agar lebih layak, aman dan terpusat.
Murid disitu (SDN Pengambangan 10) tidak sampai 60 orang. Akan lebih efektif dan efisien kalau digabung ke SDN Pengambangan 8 yang lokasinya dekat. “Selain itu, SDN Kelayan Barat 3 juga akan digabung SDN Kelayan Barat 2. Secara jumlah murid tidak merata,” tandasnya. (shn/smr)
