SEPUTARAN.ID, BANJARMASIN – Kadar keasinan atau salinitas air meningkat di wilayah Banjarmasin memberikan dampak terhadap sektor perikanan. Sejumlah pembudidaya ikan dilaporkan mengalami kematian ikan di keramba akibat kualitas air yang semakin memburuk.
Kondisi ini membuat sebagian pembudidaya harus menahan diri tidak menebar bibit ikan. Dan memilih mempertahankan budidaya yang masih berjalan sembari menunggu kualitas perairan kembali membaik.
Kepala Bidang Perikanan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian wan Perikanan (DKP3) Banjarmasin Hidayatul Fikri menyampaikan, perubahan kondisi alam, khususnya meningkatnya salinitas air menjadi kendala yang sulit dihindari para pembudidaya.
Meski menghadapi situasi tersebut, semangat nelayan dan pembudidaya buat mempertahankan usaha perikanan masih cukup tinggi.
“Jadi nelayan dan pembudidaya masih pantang menyerah. Mereka tetap bersemangat meski kondisi alam yang tidam dapat kita hindari, sebagian pembudidaya memilih bertahan dengan budidaya yang ada dan belum melakukan penebaran bibit baru,” ungkapnya Hidayatul Fikri, saat ditemui di Kantor DKP3, Jumat (30/10/2026).
Peningkatan kadar garam air tidak hanya mempengaruhi aktivitas budidaya, tetapi juga kondisi ekosistem perairan. Bahkan, sejumlah biota yang umumnya hidup di laut mulai ditemukan memasuki aliran sungai.
“Dampak perubahan kualitas air juga terdeteksi dalam pemantauan DKP3 bersama penyuluh perikanan dan Kementerian. Dari peninjauan Lapangan, ditemukan sejumlah pembudidaya ikan keramba yang mengalami kematian ikan,” bebernya.
Kualitas air di lokasi yang diperiksa dinilai sudah sangat buruk.
“Ikan nila menjadi salah satu jenis yang terdampak, namun pengaruhnya juga dirasakan ikan lainnya, termasuk haruan,” jelasnya.
Berdasarkan informasi BMKG yang diterimanya, hujan dengan intensitas lebih berkelanjutan diperkirakan mulai terjadi pada akhir November dan berpotensi berlangsung hingga Maret.
“Kondisi tersebut diharapkan dapat membantu memperbaiki kualitas perairan,” harapnya.
Namun, para pembudidaya masih harus menghadapi ketidakpastian sampai kondisi air benar-benar kembali mendukung kegiatan perikanan. Ia menyampaikan, tahun depan mencoba berinovasi dengan budidaya dengan kolam terpal atau bioflok.
“Jadi akan mencoba mengedukasi ke masyarakat dalam waktu dekat ini, budidaya memanfaatkan lahan yang ada. Agar tidak ketergantungan dengan sungai, lantaran melihat kondisi di 2026 ini. Supaya pembudidaya dapat sejahtera tentunya,” tuturnya.
DKP3 Banjarmasin terus memantau kondisi pembudidaya yang terdampak bersama penyuluh perikanan. Pemerintah berharap kualitas air segera membaik agar nelayan dan pembudidaya dapat kembali menjalankan usaha secara optimal tanpa dibayangi risiko kematian ikan dan kerugian.
“Semoga sektor perikanan tetap mampu bertahan menghadapi kondisi ini,” tukasnya.(shn/smr)
