SEPUTARAN.ID, BANJARMASIN – Krisis air baku menimpa Banjarmasin, dan terjadi setiap musim kemarau. Sehingga menjadi perhatian serius Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin.
Tak anyal, rencana pembangunan embung di daerah Pematang, Kabupaten Banjar kembali mengemuka. Bahkan, luas lahannya yang disiapkan ada sekitar 30 sampai 35 hektare.
Walikota Banjarmasin HM Yamin HR menyampaikan, persoalan tersebut tidak bisa terus diatasi dengan langkah darurat setiap kali debit sungai menurun dan intrusi air asin terjadi.
Karena itu, ia mendorong agar rencana pembangunan embung segera direalisasikan. Infrastruktur tersebut dinilai penting sebagai cadangan air baku sekaligus mengurangi ketergantungan Banjarmasin terhadap air sungai.
Walikota mengakui, pihaknya telah dipanggil Gubernur Provinsi Kalsel untuk membicarakan pembangunan embung.
Persoalan kekurangan air baku bukan kali pertama terjadi. Kondisi serupa hampir selalu berulang ketika kemarau berlangsung panjang.
“Ini bukan hanya terjadi tahun ini. Hampir setiap tahun kita menghadapi kondisi seperti ini. Karena itu, diperlukan langkah antisipatif agar pelayanan air bersih tidak terus berada dalam tekanan saat musim kemarau,” ungkap Yamin, di Balai Kota Banjarmasin, Senin (28/9/2026).
Salah satu upaya yang dinilai penting adalah pembangunan embung. Selain menjadi cadangan air ketika debit sungai menurun, embung diharapkan dapat membantu mengurangi risiko terganggunya sumber air baku akibat intrusi air asin.
“Rencana pembuatan embung ini sebelumnya sudah ada. Ini perlu kita wujudkan,” ujarnya.
Ia menyampaikan, pembangunan embung membutuhkan kolaborasi lintas pemerintahan. Pemko Banjarmasin akan mendorong kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Pemprov Kalsel) serta Balai Wilayah Sungai (BWS) atau Pemerintah Pusat, agar rencana tersebut dapat segera ditindaklanjuti.
“Mungkin pembangunan embungnya nanti secara bertahap,” ucapnya.
Di sisi lain, ia meminta, PAM Bandarmasih terus melakukan inovasi dan pembenahan dalam menghadapi persoalan air baku yang semakin kompleks.
Kondisi yang terjadi pada musim kemarau tahun ini, harus menjadi bahan evaluasi untuk membangun sistem penyediaan air yang lebih tangguh.
Yamin mengatakan, kajian teknis, penentuan lokasi, skema pembiayaan hingga tahapan pembangunan embung perlu segera dibahas bersama.
Banjarmasin yang kini memasuki usia ke-500 tahun, tidak boleh terus menghadapi persoalan air baku sebagai masalah tahunan. Ketahanan air harus disiapkan melalui perencanaan jangka panjang.
“Dengan langkah tersebut, kemarau dan intrusi air asin diharapkan tidak lagi selalu berujung pada ancaman terganggunya pelayanan air bersih bagi masyarakat,” tukasnya. (shn/smr)
