SEPUTARAN.ID, BANJARMASIN – Target membenahi persoalan kabel fiber optik yang semrawut masih menyusun masterplan atau rencana induk penataan, guna memindahkan jaringan kabel ke bawah tanah.
Plt Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) Banjarmasin Febpry Graha Utama menuturkan, langkah ini diambil sesuai dengan arahan langsung dari Walikota Banjarmasin.
Menurutnya, tahapan awal sangat krusial, sehingga perlu menyusun perencanaan yang matang. Agar proses eksekusi di lapangan berjalan lancar tanpa mengganggu layanan konsumen.
“Bagaimana kita melaksanakan tahapan-tahapan perencanaan, karena perlu disesuaikan mana posisi kabel-kabel optik yang memang sudah siap diturunkan,” katanya.
Berdasarkan paparan dari tim konsultan, karakteristik infrastruktur jalan di Banjarmasin terbagi menjadi empat tipikal. Perbedaan kondisi ini membuat penanganan di setiap wilayah tidak bisa disamaratakan.
Tipikal pertama yakni jalan yang memiliki fasilitas trotoar sekaligus drainase yang sudah siap. Tipikal Kedua yaitu jalan yang hanya memiliki fasilitas trotoar tanpa ada jalur ducting di bawahnya, contoh kawasan Jalan Ahmad Yani.
Kemudian ketiga yakni jalan yang hanya memiliki saluran drainase saja di bawahnya, yang merupakan tipikal umum jalan-jalan di Banjarmasin.
Terakhir jalan yang di bawahnya hanya berupa bahu jalan, tanpa dilengkapi trotoar maupun drainase.
Ia mengatakan, wilayah yang paling siap untuk dilakukan uji coba penataan yakni kawasan Jalan Lambung Mangkurat, makanya menjadi titik prioritas utama yang sudah disurvei.
“Kawasan pusat perkantoran dan bisnis ini dinilai memiliki infrastruktur yang paling mendekati kriteria ideal (Tipikal Pertama),” jelasnya.
Mengingat kompleksnya pemindahan kabel ke bawah tanah, Pemko Banjarmasin juga telah membuka ruang diskusi dengan para penyedia layanan internet (provider).
Pihak provider pada prinsipnya menyatakan dukungan penuh terhadap program keindahan kota ini.
“Dari hasil diskusi, muncul wacana penerapan skema kombinasi secara operasional di lapangan,” tuturnya.
Ia menjelaskan, skema ini menggabungkan jaringan utama di bawah tanah dengan tiang bersama untuk distribusi ke pelanggan.
Di bawah tanah nanti ada manhole dan ODP (Optical Distribution Point) untuk membagi jaringan ke masyarakat.
“Pembagian ke rumah-rumah warga itu nanti menggunakan tiang bersama, jadi polanya menyebar seperti cakar ayam. Tapi jaringan utamanya tetap tertanam di bawah,” tuturnya.
Ia menyatakan, pihaknya tidak ingin gegabah langsung memutus kabel di udara sebelum infrastruktur bawah tanah benar-benar siap, karena hal tersebut dapat merugikan konsumen.
“Jadi kita harus punya strategi dan timeline yang jelas. Kapan harus menyusun dulu, kapan harus diturunkan. Tidak mungkin ketika kita menurunkan kabel, tapi jaringan di bawahnya belum siap, karena konsumen bisa terganggu,” jelasnya.
Oleh karena itu, harus ada komunikasi dua arah yang intens antara pemerintah dan provider, termasuk regulasi investasi yang akan disiapkan. (shn/smr)
