SEPUTARAN.ID, BANJARMASIN – Ancaman gangster di kalangan pemuda kembali muncul dan menjadi sorotan Wali Kota Banjarmasin H M Yamin HR.
Sebab, dari gangster ini aksi tawuran hingga kekerasan yang melibatkan pelajar kerap terjadi. Sehingga tidak hanya meresahkan, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan publik.
Hingga saat ini, persoalan kenakalan remaja tersebut belum menemukan titik penyelesaian yang tegas. Kondisi ini memunculkan dorongan agar pemerintah daerah lebih serius dalam menangani dan mencegah berkembangnya perilaku negatif di kalangan generasi muda.
“Saat ini marak para gengster dan mulai terpengaruh dunia seperti itu sekarang ini,” ungkap Yamin, Senin (4/5/2026).
Ia ingin kedepan nanti dilakukan rapat secara menyuluruh stakeholder terkait guna menangglungi hal itu. Dan Meminta keterlibatan seluruh pihak baik Pemerintah, warga, tokoh masyarakat dan lainnya. “Bakal diberikan sanksi yang tegas tapi pembinaan juga ada. Guna memberikan efek jera kepada mereka atasa tindakan yang telah dilakukan,” tegasnya.
Selain itu, penguatan karakter melalui program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH), pramuka, experiential learning, hingga budaya sekolah inklusif disebut menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang tangguh dan berkepribadian kuat.
Ia mengatakan, pemerintah berharap langkah tersebut mampu menjadi benteng terhadap perundungan, intoleransi, kekerasan, hingga fenomena gangster yang mulai meresahkan masyarakat. Juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat kolaborasi guna membangun pendidikan bermutu.
Baginya, keberhasilan pendidikan tidak cukup hanya melalui program Pemerintah, tetapi juga membutuhkan perubahan pola pikir dan kepedulian bersama terhadap masa depan anak-anak.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Banjarmasin Ryan Utama menuturkan, Disdik di sekolah sifatnya preventif bagi siswa. Sehingga berharap penguatan optimalisasi karakter melalui program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH).
“Bila diterapkan hal itu dari bangun pagi sampai pulang lagi ke rumah sudah ada. Telah meminta jurnal kepad para guru terkait pelaksanaan hal itu. Karena ketika diluar sekolah sudah susah pengawasan oleh pihak sekolah,” ucapnya.
Makanya, dia ingin, mengaktifkan grup antara Wali Kelas dan orang tua siswa. Serta ada rapat koodinasi dengan Forkopimda dan stakeholder terkait, berkaitan ketertiban umum terutama yang melibatkan pelajar dan pemuda melakukan tawuran maupun gangster.
Baginya, fenomena gangster remaja tidak bisa lagi dianggap sebagai kenakalan biasa. Ada sejumlah faktor yang memicu keterlibatan pelajar dalam kelompok negatif, mulai dari lemahnya pengawasan lingkungan, minimnya pendidikan karakter, hingga derasnya pengaruh media sosial.
Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk membentuk karakter anak agar tidak mudah terpengaruh budaya kekerasan maupun kelompok negatif.
Dia pun menekankan, tanggung jawab pendidikan karakter tidak hanya berada di pundak sekolah, melainkan membutuhkan peran aktif keluarga dan lingkungan sekitar. “Kalau anak kehilangan perhatian dan arah, mereka bisa mencari identitas di tempat yang salah,” tukasnya. (shn/smr)
